AyoMedan.com – Deli Serdang. Aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dilaporkan semakin marak menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Tidak hanya di Kota Medan, aksi para pelaku juga mulai merambah wilayah sekitar, termasuk Kabupaten Deli Serdang.
Peristiwa pencurian itu dialami seorang wartawati yang akrab disapa Siti. Rumahnya dibobol maling pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 02.00 WIB, menjelang waktu sahur. Kejadian tersebut terjadi di kediamannya di kawasan Pasar I Tambak Rejo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.
Siti mengungkapkan, saat kejadian ia bersama suaminya, Fadli, tidak mendengar suara mencurigakan karena sedang tertidur pulas.
“Saya dan suami tidak mendengar suara apa pun. Biasanya kalau ada sedikit suara di luar rumah pasti terdengar. Tapi tadi malam kami tidur sangat lelap,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Ia menceritakan, kejadian itu baru diketahui ketika seekor kucing masuk ke dalam kamar mereka. Saat hendak mengeluarkan kucing tersebut, Siti merasa ada yang janggal karena pintu kamar terbuka.
Setelah memeriksa kondisi rumah, ia terkejut mendapati sepeda motor miliknya sudah tidak ada di tempat. Suaminya kemudian mengecek ke bagian belakang rumah dan menemukan pintu dapur dalam kondisi rusak diduga dijebol oleh pelaku.
Sepeda motor yang hilang adalah Yamaha All New Vixion 150 cc dengan nomor polisi BK 3504 AJD, nomor rangka MH3RG4610LK131733 dan nomor mesin G3E7E0509313.
“Setelah melihat motor tidak ada, suami saya langsung mengecek ke belakang rumah. Ternyata pintu dapur sudah dijebol maling,” katanya.
Selain sepeda motor, pelaku juga mengambil telepon genggam milik Siti, yakni Vivo Y100 5G. Di dalam casing ponsel tersebut terdapat kartu ATM Bank Sumut, uang tunai Rp200 ribu, serta struk pembayaran listrik.
Menurut Siti, pelaku sempat masuk ke kamar, namun hanya mengambil ponsel. Sementara barang lain seperti laptop dan printer tidak diambil karena tertutup handuk sehingga kemungkinan tidak terlihat oleh pelaku.
“Saya sempat ingin memvideokan kondisi rumah, tapi HP saya juga sudah hilang. Kemarin saya sempat bingung karena semua kontak ada di HP itu. Untungnya saya masih bisa memulihkan akun WhatsApp lewat laptop menggunakan email,” jelasnya.
Ia juga sempat melacak aktivitas ponsel tersebut melalui akun email yang terhubung.
“Terakhir aktif sekitar 22 jam sebelumnya. Berarti HP saya dimatikan pelaku sekitar pukul 01.43 WIB sebelum sahur,” tambahnya.
Setelah kejadian itu, Siti bersama suaminya mendatangi Polsek Medan Tembung untuk membuat laporan polisi. Namun, ia mengaku sempat mengalami kesulitan saat hendak membuat pengaduan.
Sekitar pukul 07.00 WIB, Siti datang ke Polsek dengan meminjam sepeda motor milik sepupunya. Ia mengaku diminta memfotokopi dokumen kendaraan seperti BPKB dan STNK sebelum laporan diproses.
“Saya disuruh fotokopi BPKB dan STNK dulu, jadi saya dan suami mencari tempat fotokopi di daerah Mandala,” katanya.
Setelah kembali ke Polsek, petugas SPKT meminta dirinya menuliskan nama, alamat kejadian, serta nomor telepon yang dapat dihubungi. Ia pun diminta pulang dan menunggu di rumah dengan alasan petugas akan datang sekitar pukul 09.00 WIB setelah pergantian piket.
Namun hingga sore hari, Siti mengaku tidak menerima panggilan ataupun kedatangan petugas yang dijanjikan.
“Tidak ada telepon atau pesan WhatsApp dari petugas. Karena sudah ada jadwal liputan yang tidak bisa ditunda, akhirnya saya tetap berangkat bekerja,” ujarnya.
Usai berbuka puasa sekitar pukul 19.00 WIB, Siti kembali mendatangi Polsek Medan Tembung untuk menanyakan perkembangan laporan tersebut. Saat itu, petugas SPKT yang berjaga disebut mengatakan bahwa mereka lupa melakukan koordinasi.
“Saya kembali ke Polsek menanyakan kenapa petugas belum datang. Jawabannya mereka lupa. Saya kemudian diberi nomor telepon petugas lapangan untuk dihubungi sendiri,” katanya.
Siti kemudian menghubungi petugas tersebut dan membagikan lokasi rumahnya. Petugas sempat membalas pesan bahwa mereka sedang menuju lokasi. Namun tak lama kemudian, ia menerima pesan bahwa petugas masih menangani penemuan mayat di lokasi lain.
“Petugas bilang sabar karena sedang menangani temuan mayat dulu. Jadi sampai sekarang saya masih menunggu,” ujarnya dengan nada kesal.
Rukiyah, orang tua korban pencurian juga mempertanyakan lambannya respons petugas terhadap laporan tersebut.
“Dimana mereka, kenapa belum datang? Sampai kapan menunggu? Apa harus ada korban jiwa dulu baru datang?” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan pada Jumat (13/3/2026), Siti mengaku belum menerima kunjungan petugas kepolisian ke lokasi kejadian dan masih menunggu tindak lanjut dari pihak Polsek Medan Tembung. (A-Red)