AyoMedan.com - MEDAN. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara, Ameriza Ma’ruf Moesa, menyebut perekonomian global masih menghadapi tekanan berat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, perang dagang, serta kenaikan harga komoditas energi.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Iman Gunadi, Kepala Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi DAN Perlindungan Konsumen OJK Prov. Sumut, Yovvi Sukandar, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II (DJPB Sumut), Edy Purwanto
Menurut Ameriza, prospek pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat dari sekitar 3,5 persen menjadi 3 persen pada tahun ini. Perlambatan tersebut diperkirakan terjadi di hampir seluruh negara.
“Ini menjadi tahun yang sulit karena hampir seluruh negara akan mengalami perlambatan ekonomi,” ucap Ameriza saat Bincang Bareng Media (BBM) ekonomi dan bisnis bersama puluhan wartawan, di Easy Eats Jalan Sriwijaya, Jum'at (7/8) siang.
Ia mencontohkan pertumbuhan ekonomi China yang sebelumnya berada di atas 5 persen, kini diperkirakan turun menjadi sekitar 4,6 persen. Perlambatan juga terjadi di sejumlah negara maju, termasuk Eropa dan Jepang.
Kondisi global tersebut turut memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat 5,29 persen, sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya.
Meski demikian, Ameriza menilai capaian tersebut masih relatif baik jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap ditopang konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor.
“Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup didorong oleh konsumsi dan investasi. Ekspor juga masih baik. Jadi, 5,29 persen ini patut kita syukuri karena masih berada di atas 5 persen,” katanya.
Ekonomi Sumut Tumbuh 5,06 Persen
Di tengah perlambatan ekonomi global, Sumatera Utara justru menunjukkan kinerja yang relatif positif. Ekonomi Sumut pada kuartal II 2026 tumbuh 5,06 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang berada di level 4,98 persen.
Ameriza mengatakan peningkatan tersebut menjadi sinyal positif karena Sumut mampu mencatatkan akselerasi pertumbuhan ketika sebagian wilayah lain mengalami perlambatan.
Salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Sumut adalah kinerja ekspor.
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat sejumlah produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
“Ketika rupiah melemah, secara relatif harga produk kita menjadi semakin kompetitif. Ini ikut mendorong peningkatan ekspor,” jelasnya.
Kinerja ekspor Sumut tercatat meningkat dari sekitar 2,67 persen menjadi 7,39 persen. Peningkatan tersebut turut memberikan dampak terhadap sejumlah sektor ekonomi lainnya.
Salah satu komoditas strategis yang menjadi penopang adalah crude palm oil (CPO). Menurut Ameriza, peningkatan ekspor CPO memberikan efek berantai terhadap perekonomian Sumut, terutama industri pengolahan dan sektor pertanian sebagai pemasok bahan baku.
Kinerja industri pengolahan meningkat dari 1,53 persen menjadi 1,96 persen. Sementara sektor pertanian juga mengalami akselerasi, dari 0,41 persen menjadi 1,01 persen.
“Kalau ekspor CPO naik, ini ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi karena berkaitan dengan industri pengolahan dan sektor pertanian,” katanya.
Pariwisata dan Investasi Ikut Menggerakkan Ekonomi
Selain ekspor, aktivitas konsumsi masyarakat juga masih menjadi salah satu penopang ekonomi Sumut. Melemahnya rupiah dinilai turut membuka peluang meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara karena biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif.
Aktivitas perdagangan dan pariwisata pun ikut mengalami peningkatan.
Di sisi lain, investasi juga menunjukkan perkembangan positif. Investasi tercatat meningkat dari sekitar 3,61 persen menjadi 5,45 persen.
Pengeluaran pemerintah juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama melalui berbagai proyek pemerintah pusat di Sumatera Utara.
Ameriza menyebut sejumlah proyek pembangunan, termasuk proyek strategis nasional, rehabilitasi dan pemulihan pascabencana, pembangunan sekolah, pengembangan koperasi, hingga pembangunan jalan tol Trans Sumatera, turut mendorong aktivitas ekonomi.
Sektor perdagangan juga tetap tumbuh dua digit, yakni sekitar 10,06 persen. Menurutnya, angka tersebut masih tergolong kuat meski mengalami sedikit perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara sektor konstruksi ikut terdorong oleh pembangunan infrastruktur, kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus.
BI Proyeksikan Ekonomi Sumut Tumbuh hingga 5,7 Persen
Melihat berbagai indikator tersebut, BI Sumut masih optimistis terhadap prospek ekonomi Sumatera Utara hingga akhir 2026.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumut sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, atau berpotensi lebih baik dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Ameriza menyebut terdapat sejumlah faktor yang menjadi dasar optimisme tersebut.
Pertama, adanya base effect dari kondisi tahun sebelumnya ketika Sumut terdampak bencana alam yang menekan aktivitas produksi. Dengan kembali normalnya aktivitas produksi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan ikut mengalami perbaikan.
Kedua, prospek komoditas CPO dinilai masih positif. Produksi dan harga yang relatif kompetitif diperkirakan tetap menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Sumut.
Ketiga, berlanjutnya berbagai proyek pemerintah pusat juga diyakini akan menjaga aktivitas ekonomi daerah.
“Dorongan dari proyek pemerintah pusat masih terus berjalan. Ini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara,” ujar Ameriza.
Medan Berpeluang Jadi Kota MICE
Ameriza juga melihat penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional di Medan sebagai peluang besar untuk memperkuat perekonomian daerah.
Berbagai event olahraga, pemerintahan dan kegiatan berskala nasional dinilai mampu meningkatkan konsumsi, okupansi hotel, transportasi, perdagangan hingga sektor UMKM.
Karena itu, ia mendorong Medan tidak hanya mengandalkan pariwisata, tetapi juga mengembangkan diri sebagai kota MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition).
Menurutnya, selama ini kegiatan konferensi dan pertemuan berskala besar masih banyak terpusat di Bali dan Jakarta. Padahal, Medan memiliki posisi geografis strategis karena relatif dekat dengan negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura dan Malaysia.
“Kalau semakin sering Medan menjadi tuan rumah berbagai event, tentu bagus untuk ekonomi kita. Salah satu peluang Medan menjadi motor pertumbuhan ekonomi selain pariwisata adalah menjadi kota MICE,” katanya.
Ameriza menilai tantangan ke depan adalah memperkuat infrastruktur pendukung agar Medan mampu bersaing sebagai pusat kegiatan MICE di kawasan.
Inflasi Sumut Diproyeksikan Kembali Normal
Di tengah berbagai peluang tersebut, BI Sumut juga tetap mewaspadai tekanan inflasi.
Ameriza mengatakan inflasi Sumatera Utara diperkirakan kembali bergerak menuju kondisi yang lebih normal dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebelumnya, inflasi Sumut tercatat berada di sekitar 4,66 persen. BI bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi, terutama terhadap komoditas pangan dan kebutuhan pokok masyarakat.
"Dengan kombinasi perbaikan produksi, peningkatan ekspor, investasi, belanja pemerintah, aktivitas perdagangan, pariwisata serta penyelenggaraan berbagai event, BI optimistis perekonomian Sumut tetap memiliki ruang untuk tumbuh lebih kuat hingga akhir 2026," tutup Ameriza. (A-Red)