AyoMedan.com – Medan.
Gelombang kecaman dan dukungan moril terus mengalir menyusul kasus dugaan pengeroyokan terhadap Azhari, Ketua Umum Barisan Persaudaraan Forum Muslimin Indonesia (BP FORMI) sekaligus Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi Medan Sumut Pos TV Channel dan medansumutpos.id.
Sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, tokoh agama, serta organisasi wartawan mendesak kepolisian segera mengungkap dan menangkap aktor utama di balik peristiwa tersebut.
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi pada Jumat malam, 2 Januari 2026, sekitar pukul 23.30 WIB. Korban diduga dikeroyok secara bersama-sama oleh belasan orang. Sejumlah pihak menduga keterlibatan kelompok Sorimuda/Baon Cs. Dugaan tersebut kini menjadi sorotan publik dan mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas.
Kecaman keras tidak hanya datang dari tokoh agama dan rekan seperjuangan korban, tetapi juga dari berbagai organisasi pers. Di antaranya Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Sumatera Utara, Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWO-I) Deli Serdang, Komnas WI, serta Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Deli Serdang.
Ketua OKK SWI Sumut, Azhari, bersama Ketua PWRI Deli Serdang, Joni Suheryanto, secara tegas mengecam aksi kekerasan tersebut. Keduanya mendesak Polrestabes Medan bertindak profesional dan tidak membiarkan hukum kalah oleh aksi kekerasan yang mengatasnamakan ormas berbasis agama.
“Kami mendesak Polrestabes Medan segera menangkap dan menetapkan para terduga pelaku sebagai tersangka. Jangan ada impunitas,” tegas Joni Suheryanto saat menjenguk korban, Selasa (06/01/2026).
Kecaman serupa disampaikan Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Kabupaten Deli Serdang. Ia menilai pengeroyokan tersebut sebagai tindakan barbar yang mencederai nilai kemanusiaan, hukum, dan ketertiban umum.
Desakan juga datang dari Aliansi Ormas-Ormas Kelaskaran Sumut. Panglima LPI–FPI, Ahmad Effendi Bangun, menyebut pengeroyokan itu sebagai tindakan biadab yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. "Kami minta kepolisian segera menangkap pihak-pihak terkait tanpa pandang bulu," sebutnya.
Senada, Sai’in, mantan Panglima Laskar FUI Sumatera Utara, menilai kasus ini sebagai kejahatan serius yang berpotensi mengancam kebebasan dakwah dan kemerdekaan pers. "Aparat penegak hukum harus bertindak cepat demi menjaga wibawa hukum dan rasa aman masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Panglima/Wakil Panglima FORSI, Amanar Afriadi, menegaskan pihaknya berdiri bersama korban dan akan mengawal proses hukum hingga tuntas. Ia menolak segala bentuk premanisme yang berlindung di balik simbol agama.
“Ini bukan persoalan pribadi, melainkan menyangkut keadilan publik. Negara tidak boleh kalah oleh intimidasi dan kekerasan,” tegasnya.
Desakan penegakan hukum juga disampaikan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Deli Serdang sekaligus Ketua MUI Kecamatan Percut Sei Tuan, Ustaz Awaludin Pulungan.
Dia menilai, unsur pidana pengeroyokan dalam kasus ini sudah sangat jelas.
“Kami mendesak kepolisian segera menangkap dan menetapkan pihak terlapor sebagai tersangka. Jangan ada penundaan,” sebutnya, Senin (05/01/2026) lalu.
Menurut Ustaz Awaludin, aksi kekerasan tersebut tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mencoreng nilai-nilai keislaman dan merusak ketenteraman masyarakat. "Negara tidak boleh kalah oleh aksi premanisme yang dibungkus simbol agama," tutur nya.
Dukungan moril juga terus mengalir dari para ulama dan rekan seperjuangan korban yang menilai, Azhari dikenal konsisten memperjuangkan kepentingan umat serta menyuarakan kebenaran melalui dakwah dan pemberitaan media.
Mereka berharap korban segera pulih, namun menegaskan proses hukum harus berjalan tegas, adil, dan transparan.
Para pendukung menyatakan akan terus mengawal penanganan perkara ini hingga tuntas, serta mendesak penyidik menerapkan pasal pengeroyokan dan tindak pidana terkait sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Kasus ini dinilai menjadi ujian serius bagi aparat penegak hukum dalam menegakkan keadilan dan kepastian hukum.
Hingga berita ini diturunkan, Azhari masih menjalani pemulihan akibat luka fisik dan trauma pascakejadian di RS Haji Medan. Publik pun menantikan langkah tegas kepolisian dalam mengusut kasus ini secara profesional dan berkeadilan. (Tim/Red)