AyoMedan.com - MEDAN. Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Sutarto, mengunjungi sejumlah siswa yang menjadi korban dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Diketahui, sebanyak 353 siswa dari SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Bersama, dan SMK Bersama Kabupaten Karo mengalami sejumlah keluhan, seperti mual, pusing, dan muntah setelah mengonsumsi menu MBG pada Kamis (13/8/2026).
Pascakejadian, para siswa mendapat perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya RS Efarina Etaham, RS Amanda Berastagi, dan sebagian lainnya di RSU Kabanjahe.
Setelah sempat dinyatakan dapat pulang, sejumlah siswa kembali menjalani perawatan. Dua di antaranya, Ana Karina Br Karo-Karo dan Febiona Br Purba, dirujuk dan mendapat perawatan intensif di RSU Haji Medan.
Saat ditemui awak media, Sabtu (22/8/2026), Sutarto mendesak pihak berwenang melakukan investigasi menyeluruh terhadap tata kelola pelaksanaan Program MBG, khususnya terkait standar keamanan pangan dan proses penyediaan makanan.
"Kita mendukung pelaksanaan MBG ini dengan catatan pemerintah harus melakukan investigasi menyeluruh terhadap peristiwa yang diduga akibat program ini. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali," ujar Sutarto.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara itu juga mengapresiasi langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang memberikan sanksi terhadap pelaksana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi tersebut.
"Langkah ini harus disusul dengan pengawasan ketat terhadap standar operasional prosedur di sejumlah titik SPPG di seluruh daerah," sebutnya.
Sutarto menjelaskan, SPPG yang terbukti tidak memenuhi standar mutu, kebersihan, maupun ketentuan gizi dapat dikenai sanksi tegas, mulai dari penghentian sementara atau suspend, penutupan dapur, hingga pencopotan kepala SPPG sesuai hasil evaluasi dan ketentuan yang berlaku.
"Kami akan terus mengawasi pelaksanaan program MBG ini," tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Sutarto didampingi Anggota Komisi E DPRD Sumut, Meriahta Sitepu, yang juga menjabat sebagai Bendahara DPD PDI Perjuangan Sumut.
Turut hadir Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Karo, Daud Ginting, serta Plt Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang RSU Haji Medan, dr. Winda Yolanda.
Sementara itu, Meriahta Sitepu menyebutkan sebagian siswa yang sempat dirujuk kembali ke RSU Haji Medan mengalami penurunan kesadaran dan harus mendapat penanganan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
"Namun Alhamdulillah, setelah mendapatkan penanganan intensif dari RSU Haji, kondisi para korban telah membaik," ungkapnya.
Meriahta juga mendorong agar para korban mendapatkan pendampingan dari psikiater atau tenaga profesional kesehatan jiwa anak untuk membantu menangani dampak psikologis yang mungkin muncul setelah kejadian tersebut, seperti trauma, kecemasan, maupun ketakutan terhadap makanan.
"Langkah ini penting sebagai bentuk pendampingan psikologis, sekaligus untuk memantau kemungkinan munculnya gangguan fisik maupun neurologis yang berkaitan dengan kondisi para korban pascakejadian," pungkasnya. (A-Red)