Notification

×

Iklan


Iklan


Warga Jermal 17 Protes, Pengerjaan Proyek Drainase Dinilai 'Amburadul'

Kamis, 24 Agustus 2023 Last Updated 2023-08-24T06:29:43Z



Ayomedan.com - Medan, Warga yang bermukim di kawasan Jalan Jermal 17, mengeluhkan pengerjaan drainase oleh kontraktor terkesan amburadul.


Sesungguhnya warga sangat mendukung pengerjaan drainase dengan pemasangan U-Ditch di kawasan tersebut. Karena itu merupakan salah satu harapan warga, yang kemudian diwujudkan Wali Kota Medan melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU).


Namun, pengerjaan yang terkesan amburadul dan berlarut-larutnya pemasangan cover U-Ditch oleh kontraktor, membuat warga kesal. Tidak hanya jalanan yang becek saat hujan dan berdebu tebal saat panas terik, namun warga juga merasa terganggu karena akses ke rumahnya terbatas.


Warga bahkan tidak bisa leluasa mengeluarkan kenderaan dari rumah. Bagi pemilik rumah yang ingin menggunakan kendaraan roda empat, mustahil untuk keluar. Begitu juga bagi pengendera roda dua, lebih memilih memesan grab, karena repotnya mengeluarkan kenderaan.


Parahnya lagi, pemasangan cover (penutup) U-Ditch belum seluruhnya dilakukan, yang terpasang hanya sebagian. Padahal proyek pengerjaan oleh kontraktor sudah berlangsung lama, tumpukan tanah juga terlihat dibeberapa titik jalan.


Tampak drainase menganga lebar dan dalam. Kondisi drainase yang hampir selebar badan jalan, tampak 'menyeramkan' dan membahayakan pengguna jalan. Apalagi, kawasan tersebut padat pemukiman dan banyak anak-anak, sehingga kondisi ini menambah kekuatiran warga.


"Apa kontraktor menunggu sampai ada korban, baru penutup drainasenya dipasang?," kesal Said Ilham SH, warga Jalan Jermal 17.


Ia kemudian menunjuk ke arah parit yang belum terpasang cover U-Ditch.  "Naik sepeda motor aja susah bang, jalannya licin saat hujan. Belum lagi, jalan semakin kecil, karena termakan drainase yang hampir separuh jalan," tuturnya.


Diketahui, saat ini pengerjaan drainase sudah menyentuh ujung Jalan Jermal 17 di simpang Jermal 12. Selama 3-4 hari terakhir, para pekerja melakukan pengorekan parit dan pemasangan U-Ditch di bagian itu.


Warga pun meradang. Pengorekan yang dilakukan tepat di sepanjang pintu masuk rumah-rumah warga, mulai meresahkan. Penyebabnya, karena pengerjaan itu terkesan berlarut-larut dan amburadul.


Beberapa rumah warga terputus saluran air bersihnya akibat pengerokan parit. Padahal, air merupakan kebutuhan dasar rumah tangga yang begitu penting sehari-hari.


"Sudah 2 hari ini kesulitan air bersih. Air terputus seharian, tidak bisa apa-apa. Kayak hari ini bang. Repot kali. Terpaksa mencari rumah yang punya sumur sampai ke jalan seberang, minta air untuk kebutuhan di rumah. Mau buang air kecil saja susah, karena kuatir kekurangan air di bak bang," ungkap warga lainnya.


Menurutnya, kontraktor semestinya segera memperbaiki pipa air bersih ke rumah warga yang terputus, jangan sampai berlarut-larut. Minimal ada solusi dari kontraktor, bila aliran air bersih ke rumah warga diputus.


"Jangan pula kontraktornya saja yang dapat untung, di atas derita warga. Tanggung jawablah. Jangan suka hatinya memutus air ke rumah warga dan dibiarkan lama begini. Kontraktornya enak-enak dapat proyek, kita yang dibuat sengsara," ungkapnya.


Tidak puas dengan cara kerja kontraktor, sejumlah warga akan segera melakukan demo di kantor Wali Kota Medan, mengadukan kondisi tersebut.


Sebelumnya, anggota Komisi IV DPRD Medan Dedy Aksyari Nasution juga berkali-kali menyoroti metode pengerjaan para kontraktor pengerjaan U-Ditch di Kota Medan.


"Jika pemasangan U-Ditch yang dilakukan oleh kontraktok salah maka manfaatnya tidak ada. Bahkan menimbulkan masalah baru. Metode pemasangannya tidak main-main. U-Ditch dipasang berpasangan, jadi setiap pasang harus pas dan harus ditutup dengan benar. Tidak ada celah untuk air keluar atau merembes,” ujarnya beberapa waktu lalau saat meninjau beberapa lokasi pemasangan U-Ditch yang dikeluhkan warga.


Kemudian, terkait tanah galian drainase untuk pemasangan U-Ditch juga tidak boleh dibiarkan menumpuk di badan jalan, karena menjadi penyebab kemacetan. Seharusnya setelah digali, tanah langsung diangkat segera. Sehingga tanah sisa hasil galian tidak menumpuk di badan jalan.


“Kami juga menghimbau agar kontraktor yang tidak memenuhi syarat dalam pengerjaan proyek harus ditindak tegas. Jangan terlibat dalam proyek-proyek di lingkungan Pemko Medan,” pungkasnya. (A-Red)