Notification

×

Iklan


Iklan



Iman Gunadi: Geopolitik Global dan Gangguan Jalur Logistik Berpotensi Tekan Ekspor Sumut

Kamis, 12 Maret 2026 Last Updated 2026-03-12T10:50:34Z


AyoMedan.com - Medan. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara, Iman Gunadi, menyebut dinamika geopolitik global dan gangguan jalur perdagangan internasional berpotensi memberi tekanan terhadap kinerja ekspor Sumatera Utara.


Hal tersebut disampaikan Iman Gunadi dalam diskusi panel bertema “Sinergi Kebijakan Sektor Keuangan untuk Ketahanan dan Pemulihan Ekonomi Daerah” pada kegiatan North Sumatra Economic Outlook, di lantai 9 gedung Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara, Kamis (12/3/2026).


Diskusi panel tersebut juga menghadirkan perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Utara, Yusri serta Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Sumut, Edi Purwanto.


Menurut Iman, konflik geopolitik global turut memengaruhi rantai pasok dan jalur logistik internasional yang berdampak pada aktivitas ekspor dari Sumatera Utara.


Dia menjelaskan, sejumlah komoditas utama ekspor Sumut seperti crude palm oil (CPO), kopi, dan karet sangat bergantung pada kelancaran jalur perdagangan internasional.


“Biasanya pengiriman dari Pelabuhan Belawan menuju Eropa memakan waktu sekitar 25 hari. Namun akibat gangguan jalur pelayaran dan penutupan beberapa rute strategis seperti Terusan Suez, kapal harus memutar melalui Afrika Selatan. Hal ini menambah waktu perjalanan sekitar 11 hingga 15 hari,” ujar Iman.


Kondisi tersebut menyebabkan biaya logistik dan kargo meningkat sehingga berdampak pada harga ekspor komoditas Indonesia, termasuk dari Sumatera Utara.


Selain itu, ketidakpastian geopolitik global juga memicu kenaikan harga komoditas energi, termasuk minyak, yang berpotensi meningkatkan inflasi dunia. Dampaknya, banyak negara diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi guna menekan inflasi.


“Kondisi ini tentu mempengaruhi perekonomian global, termasuk daerah yang bergantung pada ekspor seperti Sumatera Utara,” katanya.


Iman menambahkan, meski harga sejumlah komoditas global seperti CPO mengalami kenaikan, tantangan dari sisi logistik dan ketidakpastian geopolitik tetap perlu diwaspadai.


Di sisi lain, perekonomian Sumatera Utara pada tahun 2025 tercatat mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. "Pertumbuhan ekonomi Sumut pada 2025 berada di angka sekitar 4,53 persen, turun dari 5,03 persen pada 2024," ujarnya.


Penurunan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, antara lain tidak adanya momentum besar seperti Pemilu yang pada 2024 mendorong aktivitas ekonomi, serta dampak bencana yang terjadi pada akhir tahun.


Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara sektor industri, investasi, dan ekspor mengalami tekanan sepanjang 2025.


Meski demikian, Iman optimistis pada 2026 sektor ekspor dan pertanian berpotensi kembali meningkat seiring perbaikan kondisi ekonomi global dan penguatan sektor riil di daerah.


Sementara dari sisi inflasi, kondisi di Sumatera Utara menunjukkan tren penurunan menjelang akhir 2025 setelah sempat meningkat pada Agustus hingga September akibat kelangkaan cabai dan gangguan distribusi beras.


"Namun inflasi kembali meningkat setelah terjadi bencana di akhir tahun, sehingga inflasi tahunan Sumatera Utara tercatat sekitar 4,66 persen," jelasnya.


Menurut Iman, penguatan ketahanan pangan melalui pembiayaan sektor pertanian dan UMKM menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas inflasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.


Pembiayaan sektor pangan dan UMKM sangat penting untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah, termasuk dalam mengendalikan inflasi dan meningkatkan daya beli masyarakat,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, sektor perbankan, serta otoritas keuangan dalam mempercepat pemulihan ekonomi dan meningkatkan pembiayaan sektor produktif di Sumatera Utara. (A-Red)