AyoMedan.com – MEDAN. Semangat perubahan dari generasi muda mewarnai Sharing Session Youth City Changers (YCC) APEKSI 2026 yang digelar di Hotel Le Polonia, Medan, Minggu (28/6/2026). Ratusan peserta dari berbagai kota di Indonesia mengikuti diskusi yang menghadirkan sejumlah pemimpin daerah dan pemerintah pusat untuk berbagi pengalaman membangun kota yang tangguh menghadapi bencana.
Mengusung tema "Inspirasi Kota Tangguh", kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI Tahun 2026. Hadir sebagai narasumber Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal, serta Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto.
Turut hadir Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, jajaran perangkat daerah Pemerintah Kota Medan, serta para peserta YCC 2026.
Dalam paparannya, Rico Waas membagikan pengalaman Pemerintah Kota Medan saat menghadapi banjir besar pada 27 November 2025 yang menurutnya menjadi salah satu bencana paling berat yang pernah dialami Kota Medan. Hujan dengan intensitas tinggi selama tiga hari berturut-turut menyebabkan luapan air yang merendam 19 dari 21 kecamatan.
Menurut Rico Waas, kondisi darurat tersebut menuntut koordinasi yang cepat antarinstansi. Pemerintah Kota Medan segera menggelar rapat bersama Forkopimda, organisasi perangkat daerah (OPD), dan para camat untuk memetakan wilayah terdampak sekaligus menentukan langkah-langkah penanganan dan evakuasi.
"Pada awalnya masih banyak warga yang menolak dievakuasi karena menganggap air akan segera surut. Ketika debit air meningkat drastis, baru mereka meminta bantuan dalam kondisi yang sudah sangat berbahaya," ujar Rico Waas.
Dia menjelaskan, Pemko Medan kemudian mengaktifkan berbagai langkah penanganan, mulai dari pemetaan kawasan rawan, evakuasi warga, pendirian posko bencana, penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT), hingga pengerahan seluruh perangkat daerah untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Pengalaman tersebut, lanjut Rico, menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat standar operasional prosedur (SOP) penanggulangan bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.
Rico Waas juga mengungkapkan bahwa tantangan tidak berhenti setelah banjir surut. Volume sampah meningkat tajam dari rata-rata sekitar 1.500–1.700 ton per hari menjadi sekitar 6.000–6.500 ton per hari, sehingga menambah tantangan dalam proses pemulihan serta berpotensi memicu gangguan kesehatan.
Karena itu, menurutnya, penanganan bencana tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Kolaborasi dengan relawan, komunitas, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen warga menjadi faktor penting untuk mempercepat proses pemulihan.
Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal menekankan pentingnya mitigasi bencana sebelum musibah terjadi. Berbekal pengalaman Aceh menghadapi tsunami dan banjir, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat sistem peringatan dini, jalur evakuasi, rumah pompa, serta pendidikan kebencanaan berbasis keluarga dan sekolah.
"Kesiapsiagaan harus menjadi budaya. Masyarakat harus tahu apa yang dilakukan saat gempa, saat banjir, ke mana harus melakukan evakuasi, dan bagaimana melindungi diri," kata Illiza.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto menilai bahwa setiap bencana merupakan ujian terhadap kualitas sistem pemerintahan, kepemimpinan, komunikasi, kebersamaan, dan pengelolaan data.
"Bencana adalah ujian bagi sistem. Kota yang sistemnya kuat akan pulih lebih cepat, sedangkan kota dengan sistem yang lemah membutuhkan waktu lebih lama untuk bangkit," ujar Bima.
Dia juga menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir langsung di tengah krisis, sekaligus mendorong pemerintah daerah agar memperkuat perencanaan jangka panjang, meningkatkan mitigasi sejak dini, serta melibatkan para ahli kebencanaan dalam penyusunan kebijakan.
Menutup sesi diskusi, seluruh narasumber sepakat bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam membangun kota yang tangguh. Melalui inovasi, peningkatan literasi kebencanaan, dan semangat kolaborasi, kaum muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak lahirnya kota-kota yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (A-Red)