Notification

×

Iklan


Iklan



Antrean Panjang di SPBU Pemborosan, Dra Lily: Pertamina Harus Ungkap Penyebab Sebenarnya dan Segera Tambah Pasokan

Kamis, 16 Juli 2026 Last Updated 2026-07-16T02:29:26Z

AyoMedan.com – MEDAN. Anggota DPRD Kota Medan, Dr. Dra. Lily, MBA, menyoroti antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Medan. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga menimbulkan pemborosan, kemacetan, hingga berpotensi menghambat aktivitas perekonomian.

Lily menilai antrean kendaraan yang mengular di hampir seluruh SPBU membuat arus lalu lintas terganggu. Akibatnya, para pengguna jalan yang tidak berniat mengisi BBM ikut terjebak kemacetan dan menghabiskan bahan bakar kendaraan mereka.

"Ini merupakan bentuk pemborosan. Kendaraan yang terjebak kemacetan akibat antrean SPBU tetap mengonsumsi bahan bakar. Masyarakat dirugikan karena waktu terbuang dan BBM mereka ikut habis di jalan," ujar Lily.

Dia juga menanggapi penjelasan PT Pertamina yang menyebut antrean panjang bukan disebabkan kelangkaan BBM, melainkan karena distribusi terkendala akibat sebagian sopir mobil tangki enggan mengangkut BBM dari Terminal BBM Belawan ke SPBU.

Menurut Lily, alasan tersebut perlu dibuktikan secara transparan kepada publik. Ia meminta Pertamina mengungkap penyebab sebenarnya agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

"Bisa saja memang ada persoalan dengan para sopir, tetapi bisa juga mereka tidak diberangkatkan karena stok BBM memang terbatas. Kemungkinan lain adalah kesejahteraan para sopir yang belum diperhatikan. Semua itu harus diungkap secara terbuka agar masyarakat mengetahui fakta yang sebenarnya," tegasnya.

Lily menilai apabila penyebabnya adalah keterbatasan stok, maka Pertamina harus segera mengajukan penambahan kuota BBM, khususnya jenis Pertalite dan Solar yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Menurutnya, kondisi ini semestinya sudah dapat diantisipasi karena terjadi bertepatan dengan masa libur sekolah, ketika mobilitas masyarakat meningkat signifikan.

"Pada masa liburan sekolah, tentu penggunaan BBM meningkat karena banyak keluarga melakukan perjalanan ke luar kota. Pertamina seharusnya sudah menghitung lonjakan kebutuhan tersebut sehingga tidak terjadi antrean panjang seperti sekarang," katanya.

Dewan yang duduk di Komisi 2 itu mengaku turut merasakan langsung dampak antrean panjang saat melakukan perjalanan dinas menuju Kabupaten Karo. Awalnya ia tidak berencana mengisi bahan bakar, namun kemacetan panjang di sekitar sejumlah SPBU membuat konsumsi BBM kendaraannya meningkat sehingga terpaksa ikut mengantre.

"Saya sendiri mengalami bagaimana melelahkannya mengantre untuk mendapatkan BBM. Situasi ini tidak boleh terus berulang karena sangat menyita waktu dan tenaga masyarakat," ungkapnya.

Lily kembali mendesak manajemen Pertamina segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan distribusi BBM agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut dan memunculkan dampak yang lebih luas.

Politikus Partai PDIP ini juga mengingatkan, apabila masyarakat terus kesulitan memperoleh BBM, roda perekonomian daerah bisa terganggu. Kelompok yang paling terdampak adalah masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan.

"Seperti pengemudi ojek online, sopir angkutan umum, pedagang keliling, hingga pelaku usaha kecil yang menggunakan kendaraan setiap hari sebagian besar memakai Pertalite. Jika mereka  beralih ke Pertamax, biaya operasional mereka akan meningkat, sementara pendapatan belum tentu bertambah," jelasnya.

Karena itu, Lily meminta Pertamina segera menyelesaikan persoalan distribusi dan memastikan pasokan BBM di seluruh SPBU Kota Medan kembali normal agar aktivitas masyarakat dan dunia usaha tidak terganggu. (A-Red)