Notification

×

Iklan


Iklan



LAPK Soroti Mahalnya Tiket PRSU ke-50, Khawatir Minat Pengunjung Turun dan UMKM Terdampak

Selasa, 07 Juli 2026 Last Updated 2026-07-07T12:40:06Z

AyoMedan.com - MEDAN. Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) mendesak panitia Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan event tahunan tersebut. Salah satu perhatian utama adalah kebijakan harga tiket masuk yang dinilai terlalu tinggi sehingga berpotensi mengurangi minat masyarakat untuk berkunjung.

Sekretaris LAPK, Muhammad Zein Azhary Wajdi Lubis, mengatakan PRSU sejak awal diselenggarakan bukan sekadar ajang hiburan, melainkan etalase pembangunan daerah, sarana promosi potensi Sumatera Utara, sekaligus wadah mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, UMKM, komunitas, dan masyarakat dalam satu ruang.
Menurutnya, semangat kerakyatan yang menjadi identitas PRSU tidak boleh luntur hanya karena orientasi komersial.

"Filosofi itu jangan sampai hilang. Modernisasi penyelenggaraan memang penting, tetapi jangan menggeser semangat kerakyatan yang selama ini menjadi identitas PRSU," ujar Zein kepada wartawan di Medan, Selasa (7/7/2026).

Zein menilai persoalan harga tiket bukan hanya menyangkut besaran nominal, tetapi juga keterjangkauan masyarakat. Jika biaya masuk dianggap terlalu mahal, masyarakat akan berpikir ulang untuk datang. 

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap pelaku UMKM, pedagang, peserta pameran, hingga pelaku ekonomi kreatif yang mengandalkan tingginya jumlah pengunjung untuk meningkatkan pendapatan.

"Semakin banyak masyarakat yang hadir, semakin besar pula transaksi ekonomi yang tercipta. Karena itu, harga tiket seharusnya menjadi instrumen untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, bukan sekadar mengejar penerimaan," katanya.

Selain mengevaluasi tarif tiket, LAPK juga mendorong penyelenggara menghadirkan konsep yang lebih inovatif agar PRSU kembali menjadi magnet bagi masyarakat di tengah semakin banyaknya pilihan hiburan.

Menurut Zein, pemanfaatan teknologi digital, penyajian pameran yang lebih interaktif, promosi produk unggulan daerah yang lebih kreatif, serta pemberian ruang yang lebih luas bagi UMKM, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya tarik PRSU.

"Masyarakat akan datang jika PRSU mampu menawarkan suasana yang berbeda, nyaman, dan selalu menghadirkan sesuatu yang baru setiap tahun," ucapnya.

LAPK menilai, PRSU dapat belajar dari keberhasilan Jakarta Fair yang hingga kini tetap menjadi salah satu pameran terbesar di Indonesia. Keberhasilan tersebut tidak hanya ditopang oleh kemegahan hiburan, tetapi juga tata kelola yang baik, inovasi yang berkelanjutan, serta kemampuan menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya.

Karena itu, LAPK meminta panitia PRSU bersama Pemprov Sumut melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan, mulai dari kebijakan harga tiket, kualitas pameran, inovasi acara, hingga kenyamanan dan pelayanan bagi pengunjung.

"Momentum penyelenggaraan PRSU ke-50 seharusnya menjadi titik balik untuk mengembalikan PRSU sebagai kebanggaan masyarakat sekaligus motor penggerak ekonomi rakyat," tegas Zein.

Dia menambahkan, keberhasilan PRSU tidak seharusnya diukur hanya dari besarnya pendapatan tiket atau kemegahan panggung hiburan, melainkan dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas.

"PRSU lahir sebagai pesta rakyat. Jangan sampai ada keluarga yang hanya mampu menyaksikan kemeriahan dari luar pagar karena harga tiket menjadi penghalang. Sudah saatnya PRSU kembali kepada jati dirinya sebagai pesta rakyat yang benar-benar menjadi milik seluruh masyarakat Sumatera Utara," dipungkasinya. (A-Red)