Notification

×

Iklan


Iklan



Sumut Halal Fest 2026 Dorong Industri Halal Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara

Rabu, 26 Agustus 2026 Last Updated 2026-08-26T05:37:49Z


AyoMedan.com - MEDAN. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menggelar Sumut Halal Fest 2026 di eks Kantor Medan Club, Medan, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 26–27 Agustus 2026, tersebut merupakan bagian dari program unggulan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Sumatera Utara.

Sumut Halal Fest 2026 dihadiri Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan, Gubernur Sumatera Utara, Kepala Perwakilan BI Sumut Ameriza M Moesa, pimpinan perguruan tinggi, pimpinan perbankan, Baznas Sumatera Utara, pimpinan pondok pesantren, serta para pelaku UMKM.

Kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, H. Hasan Matsum.

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan BI Sumut Ameriza M Moesa menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Sumatera Utara beserta seluruh jajaran atas kolaborasi dalam penyelenggaraan Sumut Halal Fest 2026.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi festival, tetapi merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk menjadikan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di Sumatera Utara.

"Ekonomi dan keuangan syariah bukan hanya sebagai alternatif, tetapi memiliki potensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berdaya tahan dan inklusif," ujarnya.

Ameriza mengatakan, potensi ekonomi syariah Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan laporan ekonomi Islam global, Indonesia berada di posisi keempat dunia dalam perkembangan ekonomi Islam, serta memiliki posisi yang kuat dalam sektor modest fashion, pariwisata ramah Muslim, dan makanan halal.

Kondisi tersebut, lanjutnya lagi, harus menjadi momentum bagi Indonesia, termasuk Sumatera Utara, untuk tidak hanya menjadi pasar atau konsumen produk halal, tetapi mampu bertransformasi menjadi produsen, inovator, hingga eksportir produk halal.

"Jangan sampai kita hanya menjadi pasar. Kita harus mampu menjadi produsen, inovator, dan kalau memungkinkan menjadi eksportir produk halal ke seluruh dunia," katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Indonesia memperkuat kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui tiga strategi utama.

Pertama, penguatan ekosistem halal yang terintegrasi agar pelaku usaha di Sumatera Utara dapat masuk ke dalam rantai pasok halal global.

Dalam rangkaian Sumut Halal Fest 2026, BI Sumut bersama para pemangku kepentingan memfasilitasi 1.000 sertifikasi halal bagi pelaku UMKM.
BI Sumut juga berkolaborasi dengan Pemprov Sumut dalam mendorong sertifikasi bagi juru sembelih halal serta pengembangan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (Zona KHAS).

"Kami berharap semakin banyak Zona KHAS yang tumbuh dan berkembang di Sumatera Utara," ujarnya.

Selain itu, BI Sumut turut mendorong pengembangan Halal Center di lingkungan perguruan tinggi, di antaranya melalui kolaborasi dengan Politeknik Negeri Medan dan Universitas 
Terbuka.

Strategi kedua adalah optimalisasi keuangan dan pembiayaan syariah. Menurut Ameriza, penguatan ekosistem halal harus dibarengi dengan kemudahan akses permodalan bagi pelaku usaha.

Karena itu, BI mendorong terjadinya business matching antara UMKM dengan lembaga keuangan, khususnya lembaga keuangan syariah. Pengembangan keuangan sosial syariah berbasis digital juga terus didorong, termasuk untuk mendukung wakaf produktif.

"Teknologi digital memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses dan mengembangkan keuangan sosial syariah," katanya.

Strategi ketiga adalah memperluas literasi dan inklusi ekonomi serta keuangan syariah. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi, seminar, pameran, serta berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha.

Ameriza menegaskan, ekonomi dan keuangan syariah pada prinsipnya merupakan sistem ekonomi yang mengedepankan keadilan, kualitas, dan kemanfaatan serta terbuka bagi seluruh masyarakat, bukan hanya umat Islam.

"Mari kita satukan langkah untuk menuju ekonomi syariah yang berkah di Sumatera Utara," ajaknya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia Sumut dan seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Sumut Halal Fest 2026.

Gubernur menilai pengembangan industri halal tidak semata-mata berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas.

Menurutnya, kondisi demografis di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Utara yang memiliki masyarakat dengan latar belakang agama yang beragam tidak menjadi hambatan dalam pengembangan industri halal.

"Industri halal bukan hanya mengenai agama Islam, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang," ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim yang justru mampu memanfaatkan peluang industri halal dengan menjadi pemasok produk halal ke negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim, termasuk Indonesia.

Negara-negara tersebut, tambahnya, melihat industri halal sebagai peluang ekonomi yang besar sehingga mampu mengembangkan produksi dan memasok berbagai kebutuhan halal ke pasar global.

Karena itu, Sumatera Utara perlu memanfaatkan peluang tersebut dengan meningkatkan kualitas, produksi, dan daya saing produk halal lokal agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun menembus pasar internasional.

Bobby juga menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia Sumut yang telah menggagas Sumut Halal Fest sekaligus memfasilitasi sertifikasi halal bagi 1.000 pelaku UMKM di Sumatera Utara.

Sementara itu, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mengapresiasi pelaksanaan Sumut Halal Fest 2026. Ia menilai industri halal memiliki potensi bisnis yang sangat besar dan tidak boleh dipandang hanya dari sisi keagamaan.

Menurutnya, halal telah berkembang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi global. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, halal value chain pada 2025 memiliki nilai transaksi sekitar Rp6.400 triliun, atau berkontribusi sekitar 27 persen terhadap PDB nasional.

"Ini bukan bisnis main-main. Industri halal memiliki potensi ekonomi yang sangat besar," katanya.

Ahmad juga mengingatkan pentingnya membangun ekosistem ekonomi yang saling memberdayakan. Menurutnya, pengembangan industri halal harus mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi masyarakat yang membutuhkan.

Rangkaian Sumut Halal Fest 2026 turut diisi dengan berbagai kegiatan edukasi, seminar, pameran produk halal, serta fasilitasi sertifikasi halal.

Di akhir kegiatan, dilakukan penyerahan sertifikat halal kepada pelaku UMKM, juru sembelih halal, dan Rumah Potong Hewan (RPH) yang telah memenuhi ketentuan sertifikasi halal. (A-Red)